Ditolak Keraton Yogya, Harusnya Abdul Somad And Friend Ditolak Seluruh Indonesia?


 Ditolak Keraton Yogya, Harusnya Abdul Somad And Friend Ditolak Seluruh Indonesia?

Yogyakarta itu spesial, walaupun merupakan bagian dari Indonesia tapi Yogyakarta adalah provinsi yang mempunyai kewenangan untuk mengatur wilayahnya sendiri, karena itu Yogyakarta mempunyai rajanya sendiri yang dipilih sesuai dengan tradisi keraton. Hal tersebut sudah berlangsung lama, bahkan spesial-nya Yogyakarta sudah ada sejak era penjajahan.
Keraton Yogyakarta begitu menjunjung nilai-nilai budaya mereka dan rakyatnya sangat menghormati sang raja, bagi rakyat Yogyakarta sang raja sejajar kedudukannya dengan presiden republik Indonesia sekalipun. Karena itu jika ada kelompok yang mengancam kelestarian budaya keraton Yogyakarta akan mereka lawan dan tolak mentah-mentah.
Jadi ketika Abdul Somad dan para ustad-ustad radikal pemuja Khilafah ala HTI mau memasukan pengaruhnya kepada rakyat Yogyakarta, dengan sigap keraton Yogyakarta menolaknya walaupun secara halus, dengan alasan agar Yogyakarta tetap kondusif.

Karena mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa pelan-pelan apa yang diajarkan para ustad radikal tersebut akan memberangus budaya mereka, dengan mengharamkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan para pemuja khilafah, apalagi saat ini kondisi Indonesia sedang panas dengan adanya demo dimana-mana, sehingga saat-saat emosional seperti ini sangat mudah untuk memasukkan paham-paham kebencian terhadap negara dan sistem yang dianut bangsa ini.

Toleransi hanya ketika mereka masih minoritas, ketika mereka sudah berkembang biak dan pahamnya merajalela, maka mereka tidak akan segan-segan mengharamkan segala sesuatu dan mengganti kesultanan Yogyakarta dengan sistem khilafah ala HTI.
Semua di awal dari hal-hal kecil seperti mengharamkan menonton acara non islami, lalu melarang mengantar makanan yang dipesan oleh non muslim melalui ojek online, lama-lama kita tahu arah dari semua ini, semua budaya Indonesia akan diharamkan, lalu terakhir pancasila yang akan mereka haramkan terang-terangan agar diganti dengan Khilafah.

Seharusnya yang dilakukan oleh keraton Yogyakarta ini diikuti oleh wilayah lainnya, termasuk yang mayoritas beragama Muslim. Karena muslim di Indonesia ini begitu spesial, muslim di Indonesia adalah bukti nyata bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta, walaupun mayoritas tapi sanggup mengayomi dan menjaga minoritas untuk beribadah dengan tenang di negara kita.

Hal tersebut mulai bergeser dengan munculnya ustad-ustad yang mengajarkan paham radikal, yang mengharamkan segala sesuatu, mengajarkan membenci semua yang berbeda dengan mereka, bahkan ada yang melarang untuk berteman dengan yang berbeda agama, ini terjadi pada teman-teman penulis yang kini hanya mau bergaul dengan yang memiliki paham sama, walaupun kepada sesama muslim tapi jika memiliki paham yang beda, mereka akan menjaga jarak. Pembaca ada yang pernah mengalami? Ceritakan di kolom komentar ya.
Sesungguhnya Abdul Somad dan kawan-kawan ini hanya memanfaatkan agama demi kepentingan mereka, jangankan untuk memanipulasi rakyat Indonesia, kitab suci Alquran saja mereka akali agar sesuai keinginan mereka. Contohnya adalah ketika dia mengakali aturan poligami yang maksimal hanya 4 menjadi unlimited, berikut artikelnya. Contoh lainnya adalah ketika Abdul Somad dengan bangganya melawan al-anam 108 dengan alasan internal hanya karena beliau tidak berani mengakui kesalahan, padahal kata beliau sendiri kalau yang tidak mau mengakui kesalahan itu seperti firaun.

Jadi sudah sepantasnya semua muslim merenungkan kembali apa yang Abdul Somad ajarkan, jangan sampai citra agama Islam di bumi Indonesia yang penuh toleransi dan kedamaian dirusak oleh oknum-oknum ustad yang mengajarkan kebencian, jangan sampai ajaran Islam yang sempurna dimanfaatkan untuk kepentingan golongan mereka, yaitu kepentingan untuk menguasai negara ini dengan embel-embel Khilafah.

Selain Abdul Somad, penceramah radikal yang akan berceramah di Masjid Gedhe Keraton juga antara lain : Abdul Somad, Bachtiar Nasir, Felix Siauw, Ahmad Heryawan, dan Arie Untung.
Felix Siaw adalah ustad HTI yang melarang hormat pada sang saka merah putih. Bachtiar Nasir adalah buronan yang entah kenapa bisa kembali dengan aman setelah terkena kasus pencucian uang. Ahmad Heryawan adalah gubernur JABAR yang mengatasi banjir katanya hanya cukup dengan doa, maka akan surut sendiri. Lalu ada Arie Untung, yang baru saja hijrah namun merasa sudah hebat sehingga nekad berceramah, kira-kira ceramah apa yang akan diucapkan seorang yang pernah memelintir ucapan bapa Habibie?

Jadi kesimpulannya, sudah sangat tepat keraton Yogyakarta melarang Abdul Somad dan kawan-kawan ini melakukan ceramah di wilayah mereka saat Indonesia sedang panas-panasnya menjelang pelantikan presiden, karena berpotensi terjadi provokasi kepada masyarakat dengan dalil-dalil agama.

Semoga Abdul Somad tidak hanya ditolak di Yogyakarta, namun juga seluruh Indonesia. Jika pemerintah tidak berani memproses kasusnya, maka penolakan di seluruh Indonesia akan menjadi pelajaran berharga bagi Abdul Somad agar tidak menebar kebencian dan menghina orang-orang di luar kelompoknya yang berpotensi memecah belah kerukunan umat beragama di negara ini.

Sumber : https://news.detik.com

0 Komentar untuk "Ditolak Keraton Yogya, Harusnya Abdul Somad And Friend Ditolak Seluruh Indonesia?"

Multi

Back To Top