Wiranto Terkena Dua Tusukan, Pelaku Diduga Terpapar ‘Radikalisme’! Waspada!

Wiranto Terkena Dua Tusukan, Pelaku Diduga Terpapar ‘Radikalisme’! Waspada!


Menkopolhukam diserang seseorang dengan menggunakan senjata tajam di Pandeglang, Banten. Wiranto mengalami luka dua tusukan sajam. Luka tusukan itu hampir menembus dinding perut. Saat ini Wiranto sudah tiba di RSPAD Gatot Subroto menggunakan helikopter setelah sebelumnya dirawat di RS Pandeglang. Keadaan Wiranto dinyatakan stabil. Selain Wiranto, Kapolsek dan seorang warga juga mengalami tusukan. Kapolsek Darianto dan warga biasa bernama Fuad tersebut diduga terluka karena berusaha melindungi Wiranto.

Penusukan terjadi di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten, Kamis 10 Oktober 2019. Peristiwa terjadi begitu cepat saat Wiranto. Dari video amatir yang sudah beredar, tampak Wiranto terjatuh setelah ditusuk. Kemudian video lain menunjukkan pelaku diringkus pihak keamanan.

Pelaku sendiri tidak terluka dan sudah diamankan kepolisian. Pelaku terdiri dari dua orang. Satu laki-laki dan satu perempuan. Pelaku laki-laki atas nama Syahril Alamsyah (SA) alias Abu Rara kelahiran 1988 asal Medan, Sumatera Utara. Pelaku perempuan bernama Febri Adriana (FA) binti Sunarto asal Brebes, Jawa tengah. Kedua pelaku diketahui hubungan suami-istri.

Pelaku menyerang Wiranto menggunakan senjata tajam berupa pisau secara membabi-buta. Senjata pelaku sudah diamankan beserta senjata tajam lain yang dibawanya.

Menurut keterangan kepolisian, diduga pelaku laki-laki terpapar radikalisme dan mungkin juga teroris. Hanya saja belum bisa dipastikan pelaku berafiliasi dengan jaringan teroris yang mana. Saat ini kepolisian sedang menggeledah rumah keluarga pelaku yang ada di Medan. Sementara si perempuan masih dalam proses pendalaman.

Kepolisian belum memberi keterangan kenapa menduga pelaku terpapar radikalisme dan kemungkinan berafiliasi dengan kelompok teroris. Tetapi tentu saja kepolisian punya alasan yang sangat kuat menduga pelaku terpapar radikalisme. Kepolisian juga masih mendalami motif pelaku melakukan penyerangan terhadap Wiranto. Yang bisa dipastikan, pelaku tidak mungkin melakukan penyerangan atas dasar dendam pribadi.

Peristiwa ini tentu sangat disayangkan. Kejadian keji seperti ini terjadi terhadap pejabat negara. Seingat saya, belum pernah terjadi kejadian seperti ini di Indonesia sejauh ini. Baru kali ini ada penyerangan terhadap pejabat tinggi negara di ruang publik. Apakah karena pengamanan terlalu longgar atau pelaku kejahatan yang diduga terpapar radikalis itu semakin berani dan ganas?

Kalau pelaku sampai bisa mencapai menteri karena pengamanan terlalu longgar tentu menjadi dilema karena memang pejabat sekarang diharapkan lebih dekat dengan warga, tidak lagi terlalu jauh jarak antara pejabat dengan warga. Mengingat presiden juga melakukan hal yang sama, dekat dengan rakyat. Tetapi harapannya memang kedekatan dengan rakyat itu harus disertai dengan pengamanan yang sangat ekstra.

Saya jadi ingat ketika salah satu polisi menendang seorang tukang ojek yang masuk ke jalur yang sudah disterilkan. Mungkin alasan polisi itu berlaku kasar terhadap tukang ojek itu punya alasan tertentu yang sangat substantif, yang tentu hanya dengan maaf saja tidak selesai perkara. Bagaimana kalau driver ojek itu ternyata seorang teroris yang mau menyerang presiden?

Tetapi kalau pelaku mencapai Wiranto karena mereka sudah tidak peduli lagi tempat, sasaran dan konsekuensi dari kejahatannya, ini menjadi peringatan keras bagi Indonesia. Radikalisme yang sekarang sudah darurat di negeri ini bukan tidak mungkin akan mengakibatkan korban yang lebih banyak lagi.

Kepolisian dan negara harus sudah menentukan sikap yang tegas terhadap radikalisme. Sudah bukan waktunya lagi negara terlalu penyabar menghadapi mereka. Jangan sampai setelah korban berjatuhan, negara baru tegas. Sudah terlambat.

Radikalisme dan teroris sudah tidak peduli lagi di mana mereka beraksi, siapa sasarannya dan apa pun alatnya. Pisau saja sudah mereka gunakan. Mereka tidak takut tertangkap. Mereka tidak takut mati. Hanya karena mereka dicuci otaknya untuk mabuk agama mereka berani mengambil risiko yang sangat berbahaya bahkan mengorbankan nyawanya sendiri.

Sampai kapan kita hanya dihujani keresahan dan ketakutan keberadaan dan aksi-aksi para teroris dan radikalisme di tengah-tengah masyarakat. Apakah sampai menunggu radikalisme itu sudah tidak terbendung lagi baru negara bertindak tegas. Apakah sampai jatuh korban-korban lainnya barulah negara menumpas radikalisme? Jangan sampai terlambat.
Semoga korban penusukan cepat sembuh dan kembali beraktivitas kembali.
Hati-hati! Teroris dan radikalisme ada di sekitar kita!
Salam dari rakyat jelata.

Sumber: Suara.com
0 Komentar untuk "Wiranto Terkena Dua Tusukan, Pelaku Diduga Terpapar ‘Radikalisme’! Waspada!"

Back To Top